Cerita Pendek yang telah kusiapkan untuk kalian!
MISS. (rindu)
“Angkot, angkot! Diihh, budeg amat jadi
angkot!” kesal Farah sambil teriak memanggil angkot. Jam tangannya menunjukkan
pukul 7, yang berarti jam pelajaran pertama kelas XI.B sudah dimulai. Farah
menaiki angkot yang tadi dipanggilnya. Dengan muka berwarna kepiting rebus, ia
turun dari angkot dan menarik napasnya dalam-dalam ketika melihat gerbang
sekolahnya sudah tutup. Pak Kasim, Satpam SMA Global Mandiri, melihat Farah
yang datang dengan wajah cemas dan kesal. “Gawat, mana pelajaran Bu Rahma. I
hope guru rapat.” Ujar Farah dengan logat Australia-nya sambil berharap. Pak
Kasim mendatangi Farah, “Loh Farah? Farah mulu dah. Bosen hidup bapak liatin
kamu terus. Makin parah kamu ya. Udah masuk aja, guru juga lagi rapat kok” kata
Pak Kasim sambil tertawa membohongi Farah.
Beginilah
keseharian ‘cangcorang ngajak rusuh’. Anak yang paling emosian, ngeselin dan
sok belagu. Anak dari “Orang terpandang” yang jarang bahkan tak pernah mendapatkan
perhatian. Mendapatkan kasih sayang dari
seonggok uang orangtuanya. Ia tak pernah berfikir untuk dapat membahagiakan
orangtuanya. Dan bertekad untuk menjadi ‘orang biasa’.
***
Farah
masuk dengan wajah belagunya. Melewati lorong-lorong sekolah menuju kelas dengan
menendang ember yang berada di depan kelas X. Melewati Ruang Guru, namun tak
terlihat satupun guru di ruangan tersebut ketika Farah melihat ke arah dalam
ruangan guru, Farah pun terkejut dan langsung berlari ke kelasnya.
“Permisi…”
dengan nada getar Farah membuka pintu kelasnya.
“Waduh,
ada anak baru atau bayi cangcorang nih,” sorak Alif si ketua kelas yang
sebenarnya lebih resek daripada Farah. Seisi kelas bersorak dengan penuh tawa
yang pecah.
Bu
Rahma yang terlihat memasang raut wajah tak sedap hanya melihat Farah dengan
tatapan biasa. Namun, kali ini adalah kali ke-9 Farah telat di pelajarannya dan
Bu Rahma tidak ambil diam.
“Farah
untuk kali ini, silahkan bersenang senang diluar sana dengan air dan kerak
hitam membandel.” Ujar Bu Rahma sambil menunjuk kearah kain pel dan ember.
Farah yang hanya bisa
terpanga mendengar kata Bu Rahma mengikuti alunan lorong menuju toilet sekolah sambil
membawa kain pel dan ember. Sorak riuh dari kelas XI.B hingga XI.F, yang tak
biasa dengan pemandangan ini. Ketika
sang ‘cangcorang’ berubah menjadi ‘Ibu rumah tangga’. Farah hanya bisa menahan
amarahnya dengan memandang semua orang
dengan wajah terbaiknya. Sesampainya Farah di toilet, Farah mulai
membersihkan toilet, padahal ia punya jadwal istirahat di jam pelajaran Bu Rahma.
“Kotor
banget nih wc, mana gue mau istirahat dengan manja. Tumben banget Bu Rahma gini,
Argh, I want to go home.” kesal Farah saat membersihkan toilet.
***
“Kriiiiingg……” bunyi bel tanda istirahat
terdengar hingga ujung lorong SMA ini. Farah tahu akan banyak siswa yang mendatangi
toilet ketika jam istirahat. Entahlah, Farah pernah mendiskusikan tentang
peraturan ke toilet pada jam istirahat saja. Ia berdiskusi dengan anggota
tubuhnya sendiri dan berfikir keras. Lagi-lagi itu di pelajaran Bu Rahma,
aduuh.
Elin,
anak kelas XI.A yang sepertinya tak asing lagi dimata Farah. Anak terpintar,
baik hati dan suka menolong. Ia pemenang Olimpiade Fisika se-Indonesia. Anak
yang pernah memergoki Farah mem-bully adik kelas. Lalu, memberi tahu Bu
Salma, sang Guru BK. Sepertinya Elin menjadi sorotan utama dari semua
‘pengunjung’ toilet hari ini. Ia mendekati Elin perlahan lahan mungkin untuk
balas dendam. Namun, mulai ‘induk cangcorang’ alias teman sekelasnya merayu
sang bayi.
“Widiiiih,
rajin amat anak bunda. Oh iya, lupa. Ga punya bunda, upss” kata Zahra sang ratu
‘cangcorang’. Mungkin begitulah silsilah keluarga cangcorang.
Mendengarkan
perkataan Zahra tadi, tak lupa membuat
hati Farah semakin panas, bergejolak dan ingin meledak. Tapi ia masih dapat
menahan kepalan tinjunya keluar. “ehh, tumben ga di bales. Biasanya langsung
nyewot” lanjut Zahra menggoda bayi mungilnya itu. Farah tetap melanjuti
‘pekerjaan sekolah’-nya. Sambil menunggu lantai toilet itu kering. Terlihat
Elin berjalan ke arahnya, semakin Elin mendekat semakin tinggi keinginan Farah
menendang Elin hingga ke atap sekolah.
“Eh,
lu buto ijo. Tahu ga sih lantainya basah? Lu kira mudah bersihin nih toilet.”
Namun, Elin tetap melanjuti langkahnya hingga benar-benar mendekati Farah.
Sayangnya, ternyata Elin masuk ke kamar mandi dekat tempat duduk Farah. Tetapi
tetap saja, lantai yang sudah bersih, kini terlihat bekas jejak sepatu Elin. Dengan
hati kesal ia menendangi dinding dan mulai berkata kasar.
***
Elin keluar dari kamar mandi dengan tampang
tak bersalah.
“BRAAKK...”
air pun mulai memenuhi lagi toilet yang sudah kering. Ketika Elin tak sengaja
menendangi ember bekas air cucian kain pel. Lagi, Elin mencari masalah dengan ‘cangcorang’.
Farah dengan emosi yang sudah dipendamnya tadi akhirnya harus keluar karena
anak satu ini.
“EH,
BUTO IJO K*M%$!@#&!!” suara Farah yang memenuhi toilet hingga ujung lorong
kelas XI. Elin yang terlihat terkejut ketika emosi Farah terluap.
“Duuh,
maaf ya aku ga seng..” permintaan maaf Elin yang langsung dipotong oleh Farah.
“Ga
sengaja kata lu. Dih, ternyata ada anak yang lebih resek daripada gue, Alif
bahkan Zahra. Gue tau, gue anak yang ga bisa diandalin, ga bisa apa apa, dan ga
ada untungnya. Tapi lo ga bisa berbuat seenak yang lo mau.” Seketika semua
‘pengunjung’ toilet hari ini terdiam. Terdecak kagum dengan kata si ‘cangcorang
ngajak rusuh’ yang seketika mengeluarkan isi hatinya. Bu Rahma yang sebenarnya
ingin melihat keadaan ‘kerak hitam’, mendengar perkataan Farah dengan perasaan
yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Tapi Bu Rahma punya solusinya.
***
Farah
dan Elin dipanggil ke ruang BK menghadap Bu Rahma yang didampingi dengan Bu
Salma. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada nasib mereka.
Membersihkan kerak lagi atau bahkan membersihkan sekolah yang luasnya tak terhingga
ini.
“Farah,
Elin” panggil Bu Salma yang sontak membuat mereka menegakkan kepalanya. “Untuk
Farah, ibu sudah capek memberikan kamu hukuman. Semua hukuman sudah kamu coba,
tapi mungkin yang kali ini belum, ya Bu Rahma?” pernyataan Bu Salma barusan membuat
jantung Farah berdetak lebih cepat dari biasanya. “Jangan sampai dikeluarin
dari sekolah, paling juga disuruh homeschooling
oleh bunda” kata Farah dalam hatinya. “Kamu Elin, ibu sangat kecewa dengan
kamu. Padahal catatan BK kamu hampir bagus, kamu sih cari masalah sama
concorong, apa tuh cancorang atau apalah” Kata Bu Salma yang mengeluarkan
candaan tak berguna bagi telinga Farah.
“Tapi
yang terpenting, ibu hanya menginginkan satu. Sebagai hukuman dan latihan bagi
kalian.” Ujar Bu Rahma mempercepat situasi agar menghentikan keinginan Farah
untuk keluar. “Ibu mau kalian berdua bersahabat.”
***
Deg.
Situasi apa ini. Setelah 1.5 tahun Farah tak pernah lagi punya teman apalagi
sahabat. Tak pernah lagi merasakan indahnya punya teman. Jika ditanya siapa temanmu,
ia hanya akan menjawab “aku dan anggota tubuhku.” Farah dan Elin menghabiskan
waktu jam istirahat yang tersisa bersama sebagai ‘sahabat’, dengan muka kesal
Farah mengulang perkataan Bu Rahma sambil mengoloknya “Ibu mau kalian berdua
bersahabat. Elin, Ibu minta tolong untuk luruskan jalan Farah yang sudah
bengkok ini. Berarti Farah, kamu harus nurut sama Elin, biar bisa masuk jam
pelajaran saya dan menjalankan jadwal kamu seperti biasa.” Dengan nada kesal khas Farah. “Dari mana coba Bu
Rahma tau jadwal gue.” tambah Farah kesal.
“Tapi
kan gak ada salahnya di coba, Far” ujar Elin seraya menghabiskan mie ayam Mbak
Suti. “Lah, kamu gak makan? Ntar kamu sak…”
“Udahlah,
Lin. Ga usah sok care. Gue ga butuh” ujar Farah memotong pembicaraan Elin untuk
kedua kalinya.
“Btw,
kamu tau Spongebob, kan? Kata dia tuh ya, ehem ehem. ‘Kalau kamu tidak melakukan hal konyol
semasa muda bersama sahabatmu, percayalah tidak akan ada yang bisa kamu
tertawakan ketika kamu tua nanti’
tuh denger, Spongebob aja tau. Kayaknya gitu deh tujuannya Bu Rahma” rayuan
Elin dimulai demi Farah dan catatan BK-nya yang ternodai cuma karena nendang
ember.
“Udah
lah, cepet abisin. Gue mau masuk kelas” Farah yang sebenarnya sempat terdiam
saat Elin berkata seperti itu. Kata demi kata ia cerna, mungkin ada benarnya.
Ia ingin cepat kembali ke kelas dan beristirahat karena jam istirahatnya
diambil karena ‘kerak hitam’.
***
Bel
tanda pulang sudah berbunyi, Farah membereskan barangnya yang masih berantakan
ketika pelajaran Pak Afriandi alias Pak Bujang. Entah mengapa hari ini ia
berbeda dengan hari biasanya. Mendengarkan kata demi kata penjelasan Pak Bujang
mengenai ‘Kinematika dengan Analisis Vektor’. Ia keluar dari kelas tercintanya
itu sambil menyenggol Zahra yang sedang piket, melewati lorong kelas menuju
gerbang sekolah dengan wajah belagunya itu.
“FARAAHH”
panggil Elin sambil melambaikan tangannya. “Kenapa lagi ni anak, ribet amat
dah” kesal Farah. “Hari ini ada waktu kan? Adalah lah pasti. Temenin aku ke
Toko Buku Bintang ya, ada yang mau aku beli. Ntar aku tunggu di halte 4 dekat Simpang
Sukarami jam 2. Daa, Farah, jangan lupa ya” Ajakan Elin yang terlihat memaksa
tanpa jeda, membuat Farah tak dapat berkutik lagi. “Emang Farah ingat di halte
mana, simpang apa, jam berapa. Duuhh, gara-gara ember.” Elin bisa saja pergi
sendiri, namun karena si ‘ember’ yang membuat Elin harus mengurus seorang
‘bayi’.
***
Elin
sudah sampai di halte 4 Simpang Sukarami pada jam 2, Farah malah tak kunjung
datang. Sinar terik matahari membuat Elin semakin malas menunggu Farah. Lalu,
datang bis pertama yang menuju ke Toko Buku Bintang, langkah kakinya bergerak
sendiri ketika ia sudah mulai haus dengan buku fisika yang dicarinya dan yang
pasti minuman juga. Entah apa yang membuatnya tak jadi menaiki bis tersebut,
yang pasti ia mendengar teriakan seseorang memanggil namanya, tapi siapa itu
dan darimana asal suaranya , ia tak tau.
“Woi
Buto Ijo. Lo budeg amat ya kayak angkot yang gua naiki tiap pagi” kesal Farah
yang menampakkan wajah kepiting rebusnya sambil ngos-ngosan.
“Emang
angkot punya kuping? Ah sudahlah. Ya udah nunggu bentar, biasanya 15 menit lagi
bisnya datang.”
“Naik
mobil aja ya, panas nih.. Lu kira nunggu 15 menit kaga capek apa. Udahlah yuk” ajak
Farah sambil menarik tangan Elin yang memaksanya untuk menaiki mobil itu.
“Ini
mobil kamu? Bagus banget, tapi kenapa sekolah naik angkot?” Tanya Elin yang
membuat sang sopir, Pak Manto ikut tertawa. “Susah sih sebenarnya. Ga tau, mau
mulai ceritain dari mana, tapi yang jelas dan pasti gue gak mau kayak orangtua
gue. Bunda dan ayah tu selalu mendahulukan pekerjaanya daripada harta yang
diwarisi dengan gratis oleh Tuhan. Gue gak pernah ‘nyicip’ pengorbanan bunda
dari lahir. Gue berasa jadi bunga ditumpukan sampah, yang bakalan ikut terkubur
dalam hitamnya lubang. Dan gue selalu bertekad untuk tidak menjadi penerus
bunda dan menjalani hidup gue seperti biasa. Mulai dari pergi sekolah sampe
pulang sekolah hidup gue fake semua,
ya buat nutupin itulah. Bisa dibilang 180° B-E-D-A. Gue rendah dimata orang,
buat apa gue naikin lagi image gue.
Gue gak butuh jadi anak terpandang disekolah cuma gara-gara orangtua gue…ya
gitu deh.” Jelas Farah yang semakin muak dengan orangtuanya. Ia tak pernah
bercerita tentang sedikit hal baik yang diberikan oleh orangtuanya.
“Emangnya
kerja orangtua kamu apa?” ujar Elin yang tambah penasaran dengan keluarga
Farah. “BHP Biliton. Perusahaan tambang gitu di Melbourne. Kan gue bisa makin
itam kalau ke tambang mulu.” Elin yang mendengar itu sontak terdiam. Ia tahu
bahwa BHP Biliton adalah salah satu perusaahan tambang terbesar dan terkaya di
dunia.
“
Neng, udah nyampe. Ceritanya ntar aja nyambung lagi.” Pak Manto yang siap mencairkan
suasana. Farah dan Elin pun turun dari mobil dan langsung masuk ke toko.
***
Elin
tampak sibuk mencari buku Fisika untuk persiapan olimpiadenya. Sedangkan Farah,
hanya berkeliling disekitar rak buku cerita atau disekitar rak komik. Farah
terkejut, ketika Elin menyodorkan sebuah buku yang berjudul ‘THE ART OF DEALING
WITH PEOPLE*’. Farah tampak bingung, mengapa ia diberikan buku
semacam itu sedangkan ia lebih tertarik ke cerita anak atau komik. “Nih, buat
kamu. Dibaca biar teman kamu makin banyak.”. Elin langsung menarik tangan Farah
keluar dari Toko Buku Bintang. Langkah Farah terhenti, ketika tenggorokannya
mulai kekeringan dan kepanasan seperti sedang di pertambangan. Ia menarik Elin
masuk kesebuah café dan memesan dua minuman. Farah dan Elin
mulai bercengkrama sembari menghabiskan minuman yang mereka pesan tadi.
“Eh,
Far. Emangnya bunda kamu sekarang dimana?” Tanya Elin yang sudah kebingungan
dan bertanya-tanya semenjak Farah bercerita di mobil tadi. “What, bunda gue? Ya
di Melbourne lah with ayah and my big family there.” jawab Farah sambil
menyeruput espresso coffee
kesukaannya. “Kenapa kamu ga ikut orangtuamu?” kembali dibuat bingung oleh
pernyataan Farah. “So, you know what my parents need lah ya. They need a lot of
money in a way, gue ‘dibuang’ ke Indonesia untuk nerusin perusahaan ayah gue. But
I don’t want, jadi ga usah famous
amat lah biar bisa jadi ‘orang biasa’. Ga repot mikirin ‘money, money, money’
and fokus ngurusin anak gue ntar. Duh, tapi gue jadi kangen bunda, udah lama
gak ngomong sama bunda.” Ujar Farah sambil memesan yoghurt setelah menghabiskan
kopinya dan membuat Elin makin kebingungan dengan ‘cangcorang’ satu ini.
***
4
Bulan Kemudian…
Ujian
Kenaikan Kelas dimulai hari ini. Dengan mata pelajaran pertama yaitu Fisika.
Hal yang paling disukai oleh Farah dibanding espresso coffe. “… perubahan fluks magnetic. Rumus yang berlaku
pada trafo adalah…” hapalan sepanjang jalan Farah yang sekarang sudah
memberanikan diri ke sekolah menaiki mobilnya bersama Pak Manto dan tak
terlambat lagi.
“Widih,
neng Farah. Tumben datang cepet banget. Kaga naik angkot lagi nih? ” canda Pak
Kasim yang terlihat kebingungan
bercampur bahagia. “Kaga usah nunggu lagi ampe jam 7 nih, Bapak bisa sarapan
mie ayam Mbak Suti dulu.”
“Anak
bunda sekarang naik mobil nih. Udah bisa bangun pagi? Belajar dimana? Tutorial
dari Youtube?” tutur Zahra sambil tertawa, semakin keras tawaan Zahra semakin
tinggi hasrat Farah ingin menendang ‘induk’-nya itu
Hari-hari
Farah kini tak lagi seperti dulu. Melewati lorong sekolah bersama terbitnya
matahari dan ditemani oleh Elin. Tak lagi memasang wajah belagunya. Tak lagi
menganggu anak kelas X dengan menendang ember atau membuang sampah permennya.
Bel
tanda ujian pertama berbunyi. Pak Bujang melangkah ke arah kelas XI.B dengan
membawa sekumpulan kertas berisikan soal. Jantung Farah berdetak tak seperti
biasanya, sama seperti ketika Farah takut harus homeschooling atau kembali ke Melbourne.
LJK
pun dibagikan. Farah harus menunggu lebih lama karena ia duduk di meja paling belakang.
‘Farah Zaqueena Hamel’ begitulah Farah mengisi
namanya di LJK. Soal demi soal dibaca dan di dibulati dengan super-extra hati-hati. Entah apa yang
membuat Farah bertekad berhasil di ujian kenaikan kelas ini.
***
Ujian
Kenaikan Kelas telah selesai, semua siswa/i SMA Global Mandiri sangat menunggu
hasil ujian dengan harapan dan impian yang tinggi. “Gue cuma berharap 10 besar
aja sih, gue yakin banget, soalnya mami gue juga bilang gitu.” sombong Zahra
dengan keyakinan yang ia pegang. “Jangan mimpi ketinggian, ntar jatuh sakit lo”
seketika seisi kelas pecah dengan perkataan Farah. Farah sambil menuju kantin
bersama Elin, sahabatnya. Kini Elin adalah seorang sahabat Farah. Sahabat yang
takkan terpisahkan bagaikan boneka tanpa mata yang takkan sempurna.
“Mbak
Suti, pesen mie ayam dua. Yang satu ga usah pake kuah buat Elin” canda Farah
yang membuat bibir Elin lebih maju daripada biasanya. Tapi bagi Elin ini sangat
penting, tak perrnah ia melihat Farah tertawa bahagia seperti itu. “Gak kok,
canda doang. Hmm, keinget bunda kalau makan mie ayam. Pertama kaget sih, gue
kira mie ayam kayak chicken parmigiana
with spaghetti aglio olio gitu” kata Farah yang membuat wajah Elin berubah
kebingungan . “Apa? Chicken parmina?”
ini sudah pasti membuat Elin kebingungan.”Chicken
parmigiana with spaghetti aglio olio. Yang pasti ni ya, menurut gue, ayam disajiin
atau ditumis gitu sama mie, udah gitu doang. Ternyata…”
putus Farah ketika mie ayamnya sudah sampai
didepan matanya. Ia langsung meraih sendok dan garpu lalu mulai menyantap mie
ayam dengan nikmat.
***
Hari
ini adalah hari ter-istimewa bagi Farah dan Elin. Sebab, hari ini adalah
pengumuman hasil Ujian Kenaikan Kelas angkatan 2017/2018. “ELIIIN. Argh, buto
ijo budeg” Panggil Farah, yang sebenarnya sudah menunggu Elin daritadi namun
Elin hanya melewatinya saja. “Gila lu ya buto ijo. Capek tau ga gue nungguin
lo.” Meluapkan amarah ke Elin namun tak sebergejolak dulu. Mereka berlari
menuju tempat dimana siswa se-angkatannya berkumpul.
2
lembaran kertas besar sudah tertampang
di papan informasi. Kertas tersebut berisikan nama, jumlah nilai dan ranking
yang didapatkan masing-masing siswa.
Farah
yang tampak sangat sibuk mencari namanya, “Farah Zaqueena Hamel… Farah Zaqueena
Ha… gotcha. Ranking 8? What, 8?” seketika Farah mundur
kebelakang dengan perasaan bahagia dan sedih. Namun, tak sengaja ia menabrak Bu
Rahma. Bu Rahma yang memang bertujuan untuk menemui Farah dan megacungkan
kelima jari nya, untuk apa? Ya untuk tos. Elin sang ‘Bintang’ tetap menduduki
peringkat pertama. Mereka berdua berpelukan karena sudah berhasil menjadi satu
karena sebuah persahabatan. Bu Rahma hanya tersenyum kecil ketika melihat
solusinya berjalan lebih lancar daripada dugaannya.
SMA
Global Mandiri mengadakan Liburan Kenaikan Kelas ke Kuta, Bali. Selain menunggu
hasil ujian, hal yang paling ditunggu oleh seluruh siswa/i angkatan 2017/2018
adalah hal ini. Kapan lagi, siswa yang dituntut untuk selalu belajar dan
menghasilkan prestasi berlibur? Inilah
kesempatannya. Satu minggu mereka akan terpenuhi dengan kenangan termanis yang
terakhir.
***
Farah
terus menerus menge-cek handphone-nya.
Beberapa hari lalu ia mengirimkan sebuah email
ke bundanya, yang berisikan,
‘Bundaa♥♥ Adek kangen
banget sama Bunda. Nanti beliin adek tiket pulang ya, tapi nanti, ingat N-A-N-T-I. Soalnya adek liburan kenaikan
kelas dulu ke Bali bareng temen se-angkatan. Oh iya, adek dapet ranking 8 bunda.
Pinterkan? Tapi tetep ga mau jadi kayak bunda. Adek so happy. And now, I have a bestfriend,
her name is Elin. she is so pretty and very kind to me and absolutely very
smart. See you bunda. Salam juga buat ayah.
Cium Kangen-Adek”
Namun, belum ada
balasan dari bundanya. Tapi Farah yakin pesannya telah dibaca.
Empat
hari sudah waktu berlalu. Tersisa beberapa hari lagi mereka berada di Kuta.
Pantai, pasar, dari pasar rakyat sampai pasar swalayan, sunrise atau sunset
mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi Farah. “Gila, kok makin lama makin
bosen yak. Kangen bunda muluuu.” Rengek Farah ke Elin yang sedang
berjalan-jalan disekitar pasar untuk membeli berbagai buah tangan, buat siapa?
ya buat diri sendiri lah, keluarga dibeliin juga kali. Elin tahu, walaupun
Farah membenci orangtuanya, rindu akan menjadi bersemi. Huruf yang jatuh
diwajah akan menjadi puisi paling rindu. “Eh, corong. Liat nih lucu, kayak aku.
Ibuk mau gak ya?” candaan Elin sambil menunjuk kearah baju barong dan batik
bali, seraya berusaha membuat Farah bahagia di liburan kali ini.
Tak
lama mereka berjalan dan berbincang, handphone
Farah berdering. Bunda♥, tunjuk layar handphone
Farah. Cepat Farah menekan tombol hijau menjawab telepon dari bundanya.
“Halo,
bunda. Kenapa? Kangen.” Farah langsung memulai pembicaraan tanpa basa-basi
lagi.
“Kamu pulang ke Melbourne ya, ntar ayah sama
bunda jemput ke Bogor.” Ucapan bundanya membuat langkahan kaki Farah terhenti.
“Tapi
kan adek lagi di Kuta, liburan kenaikan kelas. Bunda tau kan? Jangan bilang
bunda ga baca email dari Farah.” Tanya
Farah yang meragukan bundanya tersebut.
“Bunda
baca kok, ayah juga baca. Bunda yakin kamu kangen sama kami, We really need you
and miss you, my baby.” Ujar bunda Farah yang menutupi kebohongannya karena tak
tau bahwa Farah mengirimnya email dan
sepertinya sudah mulai mengeluarkan air mata.
***
“APA?
Kamu beneran atau bercanda? Tapi gak apalah.” Elin yang tampak terkejut ketika
mendengarkan bahwa Farah harus pindah ke Melbourne tapi dia baik baik saja. “Lah,
kok gak apa sih?” tangis Farah yang sudah tersedu-sedu setelah menelepon
Bundanya. “Ya gak apalah. Kamu kan kangen bunda mu. If u happy, so I think I
can happy too.” Ujar Elin sambil tersenyum dan menyenggol Farah.
***
D-Day
Hari
ini adalah hari yang tak pernah terlupakan bagi Farah. Harus meninggalkan Elin
yang baru saja ia kenal. Meninggalkan Bu Rahma yang sangat berjasa baginya, Bu
Salma, Pak Bujang alias Pak Afriandi, mie ayam Mbak Suti yang tak akan pernah
ia lupakan cita rasa kenikmatannya.
“Goodbye,
Farah. See you on top” ucapan terakhir Elin yang memotivasinya untuk selalu
bekerja keras dan berjuang hingga menggapai kesuksesan. Di raihnya tangan Farah
dan memberikan sebuah surat dan boneka.
Surat
yang berisikan “Hi,
myCangcorang. Aku pasti bakalan kangen sama kamu(bakalan lo, ingat baru
bakalan). Kok cepet banget ya? Perasaan baru kemaren kena marah Bu Rahma.
Intinya, sukses! See you on top and always remember me. Love, ElinCantik♥ ”
keinginan Farah hanya satu, bertemu
dengan Elin kembali.
***
5 tahun kemudian.
Elin
yang kini menjadi seorang dosen terkemuka di Indonesia. Ia menjadi dosen fisika
di usianya yang masih belia. Setelah meraih beberapa gelar di Universitas di
Indonesia bahkan hingga ke Amerika. Sore itu, ia bersama dengan mobilnya
berjalan jalan hendak ke café yang
selalu ia datangi bersama Farah. Kembali di ingatnya kenangan bersama Farah
dalam waktu secepat itu. Tapi saat menuju café
terlihat beberapa truk keluar-masuk dari sebuah pertambangan. Entah mengapa,
Elin yakin bahwa itu adalah sebuah pertambangan. Namun, ia tetap melanjuti
perjalanannya hingga sampai di café.
“Kring..kriing…”
bunyi bel ketika membuka pintu café tersebut.
Elin mencari tempat duduk yang kosong dan segera memesan minuman. “Duuh, gila. Schedule
ini kok gak beraturan ya. Besok harus ke pertemuan ini, terus balik lagi ke
Melbourne, abis itu…” riuh seseorang yang masuk tanpa terlihat sopan
sedikitpun. “Espresso coffe satu sama
yoghurt satu ya.” Elin yang tak sempat melihat wajah perempuan
itu, terlihat terkejut dengan apa yang ia pesan. Ya, sama seperti kesukaan
Farah.
“Permisi,
saya duduk disini ya.” nada getar ini mengingatkan Elin pada sesuatu yang telah
hilang. “Oh ia, silahkan.” Jawab Elin tanpa menghiraukan orang tersebut. “Lah,
Elin, kan? Iya nih, ELIIINNN” sontak membuat pengunjung café terkejut dengan teriakan Farah. “Faraah, cangcorangg. Farah?
Beneran Farah nih. Kerja dimana? Kerja apa? Nganggur? Cari kerja?” untuk kedua
kalinya, Elin membuat kesal Farah bergejolak dengan pertanyaan tanpa jeda
secepat kilatnya itu.
“Ga.
Gue nambang deket sini. Lanjutin perusahaan ayah. Kesini bentar sih, besok mau
ke Papua di undang ke PT. Freeport.”
Kata Farah yang langsung menyeruput espresso
coffe yang sudah terjamu didepan matanya. “Katanya ga mau nambang. Eh,
nambang?.” Farah yang selalu membuat Elin bingung dengan pernyataannya. “Buka
cabang BHP Biliton Indonesia gitu. Ya jadi gue nambang lah. Liat tangan ama
muka gue, beda banget.” Senyum manisnya terpancarkan bagai obat penghilang
rindu. “What? Jadi tambang yang deket sini punya kamu? Bener bener ya,
pengkhianat. Katanya enggak, dikit-dikit enggak. Apaan sih kamu.” Kata Elin yang dibuatnya kesal, namun Farah
hanya bisa tertawa kecil.
Farah
yang dulunya seorang ‘cangcorang’ sekarang berubah menjadi ‘lebah’. Walaupun
sengatannya menyakitkan tapi lebah juga berguna. Ya, madu. Manis dan berguna,
bak dirinya kini.
Lalu
mereka menghabiskan waktu yang tersisa dengan berjalan-jalan bersama dan
membuat kenangan kembali yang sempat terhapus oleh jejak kehidupan.
-THE
END-
Ma.Bungo,
25Nov2017
Farah yang hanya bisa
terpanga mendengar kata Bu Rahma mengikuti alunan lorong menuju toilet sekolah sambil
membawa kain pel dan ember. Sorak riuh dari kelas XI.B hingga XI.F, yang tak
biasa dengan pemandangan ini. Ketika
sang ‘cangcorang’ berubah menjadi ‘Ibu rumah tangga’. Farah hanya bisa menahan
amarahnya dengan memandang semua orang
dengan wajah terbaiknya. Sesampainya Farah di toilet, Farah mulai
membersihkan toilet, padahal ia punya jadwal istirahat di jam pelajaran Bu Rahma.
Komentar
Posting Komentar